#pathdaily

View on Path

Advertisements

Had probably the best Uber ride ever, even though I waited for more than 15 mins ’till the guy arrived.

I was pooling with a dude from South Africa who sat in front and kept quiet.

The driver is a freelancer, a night driver, used to work as a fashion stylist for TVC. When I said I used to work at Ogilvy, he became very talkative and shared many stories. Sometimes I miss the “agency days”. Not a lot of times. Hihi. #pathdaily

View on Path

Go Box? Go Sucks

Tadi lihat stand GO BOX di PRJ. I just want to laugh. Talk is cheap! Gojek harus segera perbiki layanan pengaduan & CS kl mau bersaing dengan teknologi dan jaman.

Layanan GO BOX bikin saya mau uninstall Gojek all together (sayang masih ada kredit sisa)! Saya pesan GO BOX untuk pindahan sehari sebelumnya. Orangnya telepon mlm sebelumnya, amat sangat sopan, menyapa dgn sapaan religius.

Lalu, malam itu hujan. Tidak deras, tapi memang beberapa jam lamanya.

Paginya, saya sudah siap-siap pindahan, orang di sana sudah bela-belain nunggu dan siapin surat ijin pengelola gedung. Jam 9 driver GO BOX telp minta maaf akan terlambat. Alasanua hujan, banjir, bla bla bla. Saya tanya, “Oh, lalu dtgnya jam berapa, pak?” Dia tidak segera cancel, melainkan janji datang sebelum jam 11:30 (pdhl saya butuhnya jam 10:00). Saya bilang kalau hari weekend hanya sampai jam 12 bisa masukin barang. Jawabannya, “Gpp, saya kenal mbak satpam di sana.” (Note: kesannya sombong & sok akrab bgt ya. Memang bisa jamin dia kenal semua satpam di sana sehingga bisa minta masukin barang di luar jadwal?)

Pk 11:00 dia blm kunjung datang. Saya dan orang di sana berusaha telepon tapi tidak dijawab (ada nada sambung tapi tidak diangkat). Saya telepon terus dengan cemas, dan kirim sms pk 11:10, “Bapak sudah dimana? Bla bla..”

Lima menit kemudian dia reply sms, “Mohon maaf..says tdk bisa melakukan tugas dari IBU..karena keadaan saya saat ini.”

Crazy! Udah jam segitu, saya ngga bisa telp layanan lain untuk angkut dan ke tempat tujuan on time. Akhirnya, time dan resources hari itu (saya & pihak penerima) terbuang sia-sia. Mungkin tidak akan ada pemberitahuan juga dari GO BOX kl saya ngga terus telp dan sms.

Saya lihat di app Gojek, tidak ada tanda dia cancel. Saya telp Call Center GO BOX, dijawab santai, “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”
Gojek, karya (yg katanya anak bangsa, tp benernya bukan), ini bukan soal ketidaknyaman, tp tidak profesional. Saya bilang, “Pindahan bukan kyk pesen ojek lho, saya akan ganti layanan lain.”

Harganya pun tidak murah, Rp 280,000. Jika dibanding sebuah delivery app lain asal Thailand/ regional, bedanya Rp 40.000. Memang sih mereka beda jauh lbh murah dibandingkan moving services yg lebih konvensional.

Jangan main-main dengan customer. Jika sudah menyangkut event umum atau hubungan transactional, konsumen seperti saya ini akan segera pindah service saat dikecewakan. Ngga sudi nyoba lagi. Lebih parah lagi, konsumen akan nulis di sosial media. Kesel soalnya. Dasar Gobox! #blog #gojek #sucks

View on Path